Lakpesdam NU Bawean Gelar Refleksi Akhir Tahun “Jangan Ada Dusta Diantara Kita”

Berita94 Dilihat

Dalam rangka memperingati Hari Lahir Nahdlatul Ulama (Harlah NU) ke-103, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Bawean menggelar kegiatan refleksi akhir tahun bertajuk “Tojhuk Tojhuk Satanean” dengan tema “Jangan Ada Dusta di Antara Kita”.

Kegiatan yang dilaksanakan pada, Minggu (28/12/2025) malam ini, bertempat di Aula PCNU Bawean, yang dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari pengurus NU, badan otonom (Banom) serta elemen masyarakat Bawean.

Dalam refleksi yang berlangsung dengan suasana serius dan penuh kejujuran tersebut, Ketua Lakpesdam NU Bawean Buruddin, mengajak seluruh elemen untuk berani melihat kondisi Bawean apa adanya.

“Berbagai persoalan sosial menjadi sorotan, mulai dari sabung ayam, aduan sapi (Thok-thokan sapi), meningkatnya kenakalan remaja, masuknya narkoba ke Bawean, meningkatnya angkah perkawinan usia muda, tingginya kasus perceraian, hingga munculnya kasus-kasus seksual yang dinilai sebagai alarm kegagalan pengawasan sosial bersama”, terangnya.

Melalui forum refleksi akhir tahun ini, ia menegaskan bahwa Bawean tidak kekurangan orang baik, namun membutuhkan keberanian untuk jujur dan konsistensi dalam bertindak. Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada wacana, tetapi melahirkan tanggung jawab nyata dari setiap elemen sesuai peran masing-masing.

Sementara itu, Ketua PCNU Bawean KH Mohammad Fauzi Rauf, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kejujuran kolektif dalam membaca kondisi sosial Bawean saat ini. Ia menyampaikan bahwa refleksi akhir tahun ini bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk membangun kesadaran bersama.

“Jangan Ada Dusta di Antara Kita, harus dimaknai sebagai keberanian moral untuk mengakui masalah, bukan menutupinya dengan narasi seolah Bawean baik-baik saja,” ungkapnya.

Selain isu sosial, kerusakan lingkungan seperti abrasi, persoalan sampah, dan konflik pesisir juga menjadi perhatian utama. Peserta refleksi menilai bahwa kerusakan alam akan berdampak langsung pada masa depan alam bawean, petani, nelayan, dan ketahanan ekonomi Bawean.

Dalam aspek pelayanan publik, refleksi juga menyinggung pentingnya percepatan dan kemudahan akses transportasi, peningkatan layanan dasar, serta keterbukaan informasi. Di wilayah kepulauan seperti Bawean, akses dinilai bukan sebagai kemewahan, melainkan kebutuhan dasar masyarakat.

Isu kebencanaan turut menjadi pembahasan penting. Pengalaman gempa dan bencana tahunan seperti banjir, longsor, rob, dan kekeringan menunjukkan bahwa Bawean masih rapuh dan membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih serius dan terencana.

Refleksi “Tojhuk Tojhuk Satanean” menjadi momentum penting bagi pemerintah, pemangku kebijakan, NU dan masyarakat Bawean untuk menutup tahun dengan kejujuran, sekaligus membuka harapan baru agar permasalahan yang sama tidak terus berulang di tahun-tahun mendatang.

Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh dan unsur pimpinan daerah, di antaranya Ketua PCNU Bawean, Kepala KUA Tambak, Camat Sangkapura, unsur Polsek Sangkapura yang diwakili oleh Bapak Suryadi, Danramil Sangkapura, perwakilan Dinas Perhubungan, Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas III Bawean, kepala DISPENDIK korwil 5 Bawean.

Kontributor: Habiburrahman

Komentar