Talkshow Fatayat NU Bawean: Meneguhkan Peran Perempuan sebagai Penggerak Pendidikan dan Kemaslahatan

Memaknai Kemerdekaan melalui Perempuan yang Berdaya, Berilmu, Berani Bersuara, dan Berkarya untuk Keluarga serta Masyarakat

Berita, Galeri, NUPedia, Tokoh28 Dilihat

awean, 16 Agustus 2026 — Semangat kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai kemampuan perempuan untuk berdaya, berilmu, bersuara, dan menghadirkan kemaslahatan bagi keluarga maupun masyarakat.

Semangat tersebut mengemuka dalam Talkshow dan Dialog Interaktif bertajuk “Merdeka: Perempuan Penggerak Pendidikan, Penebar Kemaslahatan” yang digelar oleh PC Fatayat NU Bawean bersama LKP3A Fatayat NU, berkolaborasi dengan Dema Fakultas Tarbiyah INHAFI, PKK Kecamatan Sangkapura, dan LKKNU Bawean, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Minggu (16/8/2026).

Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi. Ketua PKK Kecamatan Sangkapura, Nurfadiyah Umar Juned, Amd. Kep., mengangkat gagasan tentang kemerdekaan perempuan sebagai perempuan yang berdaya dan sejahtera. Menurutnya, kemerdekaan perempuan perlu diwujudkan melalui peningkatan kapasitas, kemandirian, serta kemampuan perempuan mengambil peran dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Sementara itu, Dekan Fakultas Tarbiyah INHAFI, Muwafiqusshabri, M.Pd.I, menekankan pentingnya pendidikan dalam membangun perempuan yang merdeka. Baginya, perempuan yang merdeka adalah perempuan yang berilmu, berakhlak, dan berintegritas. Pendidikan menjadi fondasi agar perempuan mampu menjalankan perannya secara bermartabat sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya.

Perspektif lain disampaikan Rafi’ah, M.Pd.I, yang memaknai kemerdekaan perempuan melalui tiga keberanian: Speak Up, Stand Up, dan Act Up. Perempuan merdeka bukan sekadar perempuan yang memiliki kesempatan berbicara, tetapi juga berani menyuarakan kebenaran, berdiri teguh atas nilai yang diyakini, serta menerjemahkan gagasan menjadi tindakan nyata.

“Speak Up untuk menyuarakan kebaikan, Stand Up untuk berdiri teguh memperjuangkan nilai, dan Act Up untuk menghadirkan perubahan melalui tindakan,” demikian gagasan yang disampaikan Rafi’ah dalam dialog.

Adapun Yudistianah Naike Erir, Koordinator Bidang Kemaslahatan Keluarga LKKNU Bawean, menyoroti kemerdekaan perempuan dari perspektif keluarga. Menurutnya, perempuan yang merdeka adalah perempuan yang mampu memberikan kemaslahatan bagi keluarganya, termasuk memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri, berdaya dalam mengambil keputusan, dan menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan keluarga.

Keempat perspektif tersebut memperlihatkan bahwa kemerdekaan perempuan memiliki dimensi yang luas: berdaya secara sosial, berilmu secara intelektual, kuat secara personal, serta mampu menghadirkan kemaslahatan dalam keluarga dan masyarakat.

Talkshow juga menjadi ruang refleksi bahwa gerakan perempuan tidak berhenti pada perayaan simbolik kemerdekaan. Perempuan memiliki posisi strategis sebagai penggerak pendidikan, pembentuk karakter keluarga, sekaligus agen perubahan di tengah masyarakat.

Momentum tersebut semakin diperkuat dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Fakultas Tarbiyah INHAFI dan PC Fatayat NU Bawean. Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi dalam bidang pendidikan, pemberdayaan perempuan, kaderisasi, serta gerakan kemaslahatan masyarakat.

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi berlanjut menjadi berbagai program konkret yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat Bawean, khususnya dalam penguatan kapasitas perempuan dan generasi muda.

Dari Bawean, semangat kemerdekaan kembali ditegaskan: perempuan bukan sekadar penerima perubahan, tetapi penggerak perubahan. Perempuan tidak hanya berbicara tentang kemaslahatan, tetapi hadir dan bekerja untuk mewujudkannya.

Merdeka bukan sekadar bebas. Merdeka adalah berdaya, berilmu, berani bersuara, teguh berdiri, dan nyata berkarya untuk kemaslahatan bersama

Komentar